Kekaisaran Meksiko Kedua atau yang dikenal dalam bahasa Spanyol sebagai Segundo Imperio mexicano merupakan sebuah monarki konstitusional yang didirikan di Meksiko oleh kaum monarkis lokal dengan sokongan kuat dari Kekaisaran Prancis Kedua. Periode bersejarah ini sangat erat kaitannya dengan intervensi militer Prancis kedua di wilayah Amerika Utara yang digagas oleh Kaisar Napoleon III.
Kaisar Napoleon III bersama para konservatif, kaum rohaniawan, dan para bangsawan Meksiko berambisi mendirikan sekutu monarki di Benua Amerika guna menyeimbangi kekuatan Amerika Serikat yang kian berkembang pesat. Takhta kerajaan tersebut akhirnya ditawarkan kepada Adipati Agung Austria dari Wangsa Habsburg-Lorraine yaitu Maximilian, yang kemudian dinobatkan bersama istrinya, Permaisuri Carlota.
Related Stories
Update Berita Olahraga Terkini dari Nysha Lilly
Dapatkan informasi terbaru seputar Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, dan berita sepak bola internasional langsung di inbox Anda. Gratis!
SubscribeMeskipun pasukan militer Prancis berhasil menguasai sebagian besar wilayah pusat Meksiko termasuk ibu kota, para pejuang Republik di bawah kepemimpinan Presiden Benito Juarez terus melancarkan perlawanan gigih. Perang gerilya berkepanjangan serta tekanan diplomatik dari Amerika Serikat pasca-Perang Saudara membuat posisi rezim monarki tersebut semakin terpojok dan rentan.
Runtuhnya dukungan finansial serta penarikan pasukan militer oleh Prancis pada tahun 1866 menandai awal kehancuran kekaisaran bentukan Napoleon III ini. Maximilian yang menolak untuk turun takhta akhirnya berhasil ditangkap oleh pasukan Republik di Queretaro dan dihukum mati pada tanggal 19 Juni 1867, sekaligus mengakhiri riwayat kekaisaran tersebut.
Jatuhnya Kekaisaran dan Akhir Hayat Maximilian
Situasi geopolitik internasional yang berubah drastis setelah berakhirnya Perang Saudara Amerika Serikat memaksa Napoleon III untuk menarik mundur seluruh pasukannya dari tanah Meksiko. Kepergian tentara Prancis membuat pemerintahan Kaisar Maximilian kehilangan pilar utama kekuatan militer dan finansial yang selama ini menopang kelangsungan kekuasaannya.
Meskipun menghadapi situasi militer yang semakin memburuk dan kehilangan dukungan dari kaum konservatif akibat kebijakan liberalnya, Maximilian tetap bersikeras tinggal di Meksiko. Ia menolak untuk meninggalkan negara tersebut meskipun masa depan rezim monarki yang dipimpinnya sudah berada di ujung tanduk.
Pasukan Republik yang dipimpin oleh Benito Juarez akhirnya berhasil mengepung dan menangkap Maximilian beserta para jenderal setianya seperti Tomas Mejia dan Miguel Miramon di kota Queretaro. Penangkapan tersebut menjadi titik balik penting bagi pemulihan kedaulatan penuh Republik Meksiko dari cengkeraman kekuasaan asing.
Eksekusi mati terhadap Maximilian di hadapan regu tembak pada Juni 1867 secara resmi menutup babak kelam intervensi asing dan kebangkitan kembali bentuk pemerintahan republik di Meksiko. Peristiwa tragis ini hingga kini dikenang sebagai salah satu momen paling dramatis dalam lembaran sejarah politik Amerika Latin.