Sejarah penjelajahan Antartika bermula dari teori-teori barat kuno mengenai keberadaan sebuah benua luas di belahan bumi selatan yang dikenal sebagai Terra Australis. Istilah antartika sendiri dicatat pertama kalinya oleh Marinus dari Tirus pada abad ke-2 Masehi untuk menyebut wilayah yang berada di sisi berlawanan dari Lingkar Arktik.
Para pemikir Yunani kuno seperti Aristoteles telah berspekulasi bahwa harus ada wilayah di belahan bumi selatan yang menyeimbangkan daratan di utara. Berbagai pelayaran berikutnya pada abad ke-15 dan ke-16, termasuk pembukaan jalur Tanjung Harapan dan Tanjung Horn, perlahan-lahan mengikis mitos tersebut dan membuktikan bahwa lautan luas memisahkan daratan-daratan yang ada.
Related Stories
Update Berita Olahraga Terkini dari Nysha Lilly
Dapatkan informasi terbaru seputar Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, dan berita sepak bola internasional langsung di inbox Anda. Gratis!
SubscribeKapten James Cook bersama krunya mencatat sejarah penting pada tahun 1773 ketika mereka berhasil melintasi Lingkar Antartika untuk pertama kalinya. Meskipun ia tidak melihat daratan utama benua tersebut secara langsung, ekspedisinya mempersempit wilayah pencarian bagi para penjelajah generasi berikutnya.
Titik balik penemuan fisik benua ini terjadi pada awal abad ke-19 melalui rangkaian ekspedisi pemburu anjing laut serta pelayaran resmi dari berbagai kekaisaran. Konfirmasi final mengenai eksistensi benua es tersebut akhirnya diperoleh melalui data gabungan dari ekspedisi nasional yang dipimpin oleh Charles Wilkes, Jules Dumont d'Urville, dan James Clark Ross pada tahun 1840.
Mitos Terra Australis dan Pelayaran Samudra
Era eksplorasi kemudian memasuki fase yang dikenal sebagai zaman keheroikan atau heroic age yang ditandai oleh persaingan ketat mencapai titik paling selatan bumi. Puncak dari era tersebut tercatat ketika Roald Amundsen sukses menaklukkan Kutub Selatan pada 14 Desember 1911, sebelum akhirnya aktivitas penjelajahan beralih ke era modern yang didukung teknologi dan kerja sama traktat internasional.
Gagasan mengenai Terra Australis Incognita atau tanah selatan yang tak dikenal sempat mendominasi peta dunia selama berabad-abad oleh para kartografer Eropa. Para pelaut dan penjelajah berlomba-lomba mengarungi samudra berbahaya demi menemukan benua ketiga yang diyakini sangat kaya dan luas.
Pelayaran demi pelayaran terus dilakukan untuk menembus batas selatan dunia, mulai dari pelayaran Ferdinand Magellan yang melewati selat di ujung Amerika Selatan hingga ekspedisi Belanda yang terdorong angin badai jauh ke selatan. Kendati banyak yang melaporkan penampakan gunung es dan cuaca ekstrem, sedikit sekali yang benar-benar berhasil melewati batas lingkaran kutub pada masa-masa awal tersebut.
Keterlibatan tokoh-tokoh seperti Alexander Dalrymple turut memicu minat akademis dan kerajaan untuk memetakan wilayah selatan secara lebih serius. Dorongan inilah yang kemudian membawa kapten-kapten kapal laut tangguh untuk membuka jalan bagi penemuan pulau-pulau sub-antartika yang menjadi batu loncatan eksplorasi daratan utama.