Aloysius Paulus Maria atau yang lebih dikenal sebagai Louis van Gaal merupakan mantan pemain dan manajer sepak bola asal Belanda yang lahir di Amsterdam pada 8 Agustus 1951. Pria yang mendapat julukan "Iron Tulip" ini sukses merengkuh puluhan trofi mayor sepanjang karier manajerialnya di level klub maupun internasional.
Sebelum sukses di pinggir lapangan, Van Gaal mengawali kariernya sebagai pemain gelandang membela sejumlah klub seperti Royal Antwerp, Telstar, Sparta Rotterdam, Ajax, dan AZ. Uniknya, ia juga sempat bekerja sebagai guru pendidikan jasmani di sekolah menengah ketika masih berstatus sebagai pemain sepak bola semi-profesional.
Related Stories
Update Berita Olahraga Terkini dari Nysha Lilly
Dapatkan informasi terbaru seputar Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, dan berita sepak bola internasional langsung di inbox Anda. Gratis!
SubscribeLangkah besar dalam karier kepelatihannya dimulai saat ia mengambil alih kursi pelatih kepala Ajax pada tahun 1991 setelah sebelumnya menjadi asisten. Di bawah arahannya, Ajax menjelma menjadi kekuatan raksasa yang mendominasi kompetisi domestik Belanda hingga merajai panggung Liga Champions Eropa.
Kesuksesan tersebut membawanya melanglang buana membesut klub-klub top benua biru termasuk Barcelona, Bayern Munich, hingga Manchester United. Selain itu, Van Gaal juga mendedikasikan diri untuk memimpin tim nasional Belanda dalam tiga periode berbeda termasuk mempersembahkan peringkat ketiga di Piala Dunia 2014.
Kejayaan Bersama Ajax dan Tantangan di Barcelona
Masa kepelatihan Louis van Gaal di Ajax pada periode 1991 hingga 1997 menjadi salah satu era paling keemasan dalam sejarah klub tersebut. Ia sukses mengantar De Godenzonen meraih tiga gelar Eredivisie secara beruntun serta menjuarai Liga Champions UEFA pada tahun 1995 tanpa tersentuh kekalahan.
Keberhasilan luar biasa di Belanda membuat Barcelona tertarik merekrutnya untuk menggantikan Bobby Robson pada tahun 1997. Setibanya di Camp Nou, Van Gaal langsung mempersembahkan dua gelar La Liga berturut-turut serta satu trofi Copa del Rey bagi publik Catalan.
Kendati mendulang sukses di awal kepemimpinannya, Van Gaal kerap terlibat ketegangan dengan media setempat serta menghadapi kendala dalam menerapkan filosofi sepak bolanya. Perbedaan budaya serta gesekan dengan sejumlah pemain bintang seperti Rivaldo membuat hubungannya dengan pihak klub merenggang.
Setelah meninggalkan Barcelona untuk pertama kalinya pada tahun 2000, ia sempat menukang timnas Belanda meski gagal membawa negaranya lolos ke Piala Dunia 2002. Perjalanan panjang ini membentuk karakter kepelatihan Van Gaal yang dikenal sangat disiplin, tegas, dan tidak kenal kompromi.