Egyptian Football Association atau yang lebih dikenal sebagai EFA merupakan badan pengatur resmi untuk olahraga sepak bola di Mesir. Berdiri sejak tahun 1921, organisasi ini memegang yurisdiksi penuh atas sistem liga sepak bola Mesir serta bertanggung jawab langsung terhadap tim nasional pria dan wanita.
Kantor pusat EFA berlokasi strategis di kawasan Gezira, Kairo. Organisasi ini juga mengorganisasi berbagai kompetisi profesional seperti Egyptian Second Division A, serta liga regional di bawahnya termasuk Second Division B dan Egyptian Third Division.
Related Stories
Update Berita Olahraga Terkini dari Nysha Lilly
Dapatkan informasi terbaru seputar Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, dan berita sepak bola internasional langsung di inbox Anda. Gratis!
SubscribeSepak bola modern pertama kali masuk ke Mesir pada tahun 1882 melalui para pemuda setempat yang mulai bermain di jalanan Kairo, Alexandria, dan kota-kota di Terusan Suez. Olahraga ini dengan cepat berkembang menjadi hiburan populer yang melahirkan tim-tim lingkungan hingga terbentuknya timnas pertama pada tahun 1895.
Perjuangan untuk "meng-Mesir-kan" sepak bola mencapai puncaknya setelah Revolusi 1919 melawan pendudukan Inggris. Para tokoh nasionalis berupaya keras melepaskan pengaruh asing hingga akhirnya EFA resmi didirikan pada 3 Desember 1921 dengan Jaafar Wali Pasha sebagai presiden pertamanya.
Dinamika dan Isu Internal Egyptian Football Association
Di balik sejarah panjang perkembangannya, Egyptian Football Association sempat menghadapi berbagai sorotan terkait isu representasi minoritas di dalam skuad nasional. Isu ini mencakup laporan dari kelompok advokasi mengenai minimnya keterwakilan umat Kristen Koptik di level tim nasional.
Meski kelompok minoritas Kristen Koptik menyumbang sekitar lima hingga sembilan persen dari total populasi Mesir, kehadiran pemain dari latar belakang tersebut di timnas tercatat sangat jarang. Nama-nama legendaris seperti Hany Ramzy menjadi segelintir contoh pemain Kristen yang pernah menembus skuad utama di masa lalu.
Selain itu, keterlibatan keluarga terkemuka dari komunitas tersebut tetap terlihat dalam industri sepak bola nasional melalui kepemilikan klub profesional. Keluarga Sawiris, misalnya, tercatat memiliki klub sepak bola seperti El Gouna FC dan ZED FC yang berkompetisi di liga domestik.
Kelompok advokasi seperti Coptic Solidarity bahkan sempat melayangkan pengaduan resmi kepada Komite Olimpiade Internasional atau IOC terkait dugaan eksklusivitas tersebut. Kendati demikian, hingga saat ini belum ada investigasi formal yang dilakukan oleh FIFA maupun IOC terkait keluhan tersebut.