Gianni Infantino lahir di Brig, Swiss, pada 23 Maret 1970 dari orang tua imigran asal Italia. Ia menempuh pendidikan hukum di University of Fribourg sebelum memulai langkah awalnya di dunia manajemen olahraga sebagai Sekretaris Jenderal International Centre for Sports Studies di University of Neuchatel pada akhir dekade 1990-an.
Kariernya di kancah sepak bola internasional mulai menanjak ketika ia bergabung dengan UEFA pada Agustus 2000. Selama berkiprah di badan sepak bola Eropa tersebut, ia memegang berbagai posisi strategis termasuk Direktur Urusan Hukum dan Perizinan Klub hingga diangkat menjadi Sekretaris Jenderal UEFA pada Oktober 2009 mendampingi era kepemimpinan Michel Platini.
Related Stories
Update Berita Olahraga Terkini dari Nysha Lilly
Dapatkan informasi terbaru seputar Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, dan berita sepak bola internasional langsung di inbox Anda. Gratis!
SubscribeSelama mengabdi di UEFA, Infantino dikenal berperan penting dalam memperkenalkan regulasi Financial Fair Play serta mengawasi perluasan turnamen seperti Piala Eropa atau Euro 2016 menjadi 24 tim. Ia juga ikut menggagas pembentukan ajang UEFA Nations League sebelum akhirnya memutuskan maju sebagai kandidat calon orang nomor satu di induk sepak bola dunia.
Pada Kongres Luar Biasa FIFA 2016, Infantino resmi terpilih sebagai Presiden FIFA menggantikan Sepp Blatter. Ia mencatatkan sejarah sebagai orang Italia pertama yang menduduki kursi kepemimpinan tertinggi di organisasi yang menaungi sepak bola seluruh dunia tersebut.
Gebrakan Ekspansi Turnamen dan Berbagai Kontroversi
Di bawah kepemimpinan Gianni Infantino, FIFA telah mengawasi perhelatan sejumlah ajang akbar seperti Piala Dunia 2018 di Rusia dan Piala Dunia 2022 di Qatar. Ia juga menjadi figur kunci di balik keputusan masif untuk memperluas format Piala Dunia pria maupun wanita menjadi 48 peserta mulai edisi-edisi mendatang.
Selain melakukan ekspansi turnamen dan merombak format Piala Dunia Klub menjadi 32 tim, masa kepemimpinan Infantino turut mencatatkan lonjakan pendapatan finansial yang signifikan bagi organisasi. Pendapatan FIFA dilaporkan berlipat ganda dengan peningkatan alokasi dana bantuan pembangunan bagi asosiasi-asosiasi nasional anggota.
Kendati membawa banyak perubahan komersial dan perkembangan teknologi dalam sepak bola, era kepemimpinan pria berdarah Swiss-Italia ini tidak lepas dari sorotan tajam dan kritik publik. Berbagai kebijakan strategis, kontrak finansial, hingga kedekatannya dengan sejumlah tokoh politik kerap memicu perdebatan di tingkat global.
Selain itu, dinamika internal serta gesekan hukum dengan beberapa mantan petinggi sepak bola dunia turut mewarnai perjalanan kariernya di kursi kepemimpinan tertinggi FIFA. Meski demikian, Infantino tetap konsisten melanjutkan agenda reformasi dan ekspansi global demi memperluas cakerawala industri sepak bola modern.