Roberto Di Matteo merupakan sosok pesepak bola asal Italia yang sukses menorehkan tinta emas baik sebagai pemain maupun ketika berkarier sebagai pelatih di level tertinggi sepak bola Eropa. Lahir di Swiss dari keluarga asal Italia, perjalanan karier sepak bolanya dimulai dari klub-klub lokal sebelum akhirnya namanya mulai dikenal luas saat memperkuat sejumlah tim elit benua biru.
Karier profesionalnya mulai menanjak ketika ia berhasil mempersembahkan gelar liga domestik bersama klub asal Swiss, Aarau, pada musim 1992 hingga 1993. Penampilan impresif tersebut membawanya hijrah ke Liga Italia Serie A untuk memperkuat Lazio di bawah arahan pelatih berpengalaman seperti Dino Zoff dan Zdeněk Zeman selama tiga musim.
Related Stories
Update Berita Olahraga Terkini dari Nysha Lilly
Dapatkan informasi terbaru seputar Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, dan berita sepak bola internasional langsung di inbox Anda. Gratis!
SubscribeKepindahannya ke Liga Inggris bersama Chelsea pada tahun 1996 dengan nilai transfer yang memecahkan rekor klub saat itu menjadi titik balik paling monumental dalam karier bermainnya. Berposisi sebagai gelandang tengah yang ulet dan kreatif, ia langsung menjadi motor permainan The Blues berkat kemampuan operan akurat serta tendangan jarak jauh yang mematikan.
Sayangnya, serangkaian cedera parah pada lututnya membuat ia harus mengambil keputusan berat untuk gantung sepatu pada Februari 2002 di usia yang masih menginjak 31 tahun. Selama berseragam klub London tersebut, ia telah mencatatkan 175 penampilan dan mempersembahkan sejumlah trofi bergengsi domestik maupun internasional.
Transformasi Gemilang Di Matteo Sebagai Juru Taktik Chelsea
Setelah pensiun sebagai pemain, Roberto Di Matteo langsung beralih profesi ke dunia manajerial dengan menukangi Milton Keynes Dons dan kemudian membawa West Bromwich Albion promosi ke Premier League. Sentuhan magisnya sebagai pelatih mencapai puncak ketika ia ditunjuk sebagai manajer interim Chelsea pada paruh musim 2011 hingga 2012.
Ia secara luar biasa mampu membangkitkan performa tim yang sempat terpuruk dan sukses mengantarkan klub meraih gelar juara Piala FA setelah mengalahkan Liverpool di partai puncak stadion Wembley. Tak berhenti sampai di situ, ia juga mencatatkan sejarah terbesar dengan membawa Chelsea meraih trofi Liga Champions untuk pertama kalinya.
Pada laga final yang berlangsung dramatis di markas Bayern Munich, Allianz Arena, skuad asuhannya berhasil keluar sebagai pemenang melalui drama adu penalti setelah bermain imbang hingga babak tambahan waktu. Keberhasilan tersebut sekaligus menjadikan Chelsea sebagai klub asal London pertama yang sukses merajai kompetisi paling elit di Benua Eropa.
Meski akhirnya masa baktinya harus berakhir tidak lama setelah penunjukan permanen akibat fluktuasi performa tim di musim berikutnya, warisan kepemimpinannya tetap abadi dalam sejarah klub. Kiprahnya membuktikan kapasitas seorang gelandang cerdas yang mampu bertransformasi menjadi pelatih bermental juara di panggung sepak bola modern.