Hasil buruk langsung didapat Tottenham Hotspur pada pekan perdana Liga Inggris setelah takluk dari Brentford dengan skor telak 3-0 di Gtech Community Stadium. Penampilan mengecewakan ini membuat skuad asuhan Roberto De Zerbi langsung mendapat sorotan tajam dari para pengamat sepak bola.
Meski telah menggelontorkan dana besar di bursa transfer musim panas untuk mendatangkan sejumlah pemain bintang seperti Mateus Fernandes dan Sandro Tonali, Spurs gagal menunjukkan taringnya. Brentford langsung membuka keunggulan cepat pada menit ke-12 lewat aksi Keane Lewis-Potter.
Related Stories
Update Berita Olahraga Terkini dari Nysha Lilly
Dapatkan informasi terbaru seputar Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, dan berita sepak bola internasional langsung di inbox Anda. Gratis!
SubscribeTekanan tuan rumah tidak mengendur setelah gol pertama, sementara lini belakang Tottenham terlihat rapuh dan kesulitan meredam serangan bergelombang dari kubu lawan. Gol kedua Brentford lahir dari situasi kemelut di depan gawang yang dimanfaatkan dengan baik oleh Vitaly Janelt.
Memasuki babak kedua, derita tim tamu semakin bertambah setelah Michael Kayode mencetak gol ketiga bagi Brentford menyusul situasi sepak pojok yang terorganisir dengan rapi. Keunggulan tiga gol ini membuat jalannya pertandingan praktis berada di bawah kendali penuh tuan rumah.
Kritik Tajam Jamie Redknapp untuk Performa Tottenham Hotspur
Pundit sepak bola Jamie Redknapp bahkan melontarkan kritik keras terhadap performa kolektif tim tamu yang dinilai sama sekali tidak menunjukkan chemistry di atas lapangan.
"Anda mungkin bisa mengatakan mereka seperti sekumpulan orang asing jika melihat cara bermainnya, mereka tidak memiliki pemahaman taktik yang matang," ujar Redknapp.
Masalah koordinasi lini tengah dan pertahanan menjadi sorotan utama dalam evaluasi menyeluruh terhadap penampilan buruk Tottenham Hotspur di kandang Brentford. Kehadiran wajah-wajah baru di skuad utama dinilai belum mampu mengangkat performa tim secara instan.
Redknapp menyoroti lini belakang Spurs yang gagal memenangi duel-duel penting melawan para penyerang lawan, serta minimnya kreativitas di lini tengah. Pemilihan posisi pemain seperti Connor Gallagher yang dipasang sebagai gelandang serang nomor 10 juga dinilai kurang efektif.