Roberto Sensini lahir di Argentina pada 12 Oktober 1966 dan dikenal sebagai salah satu bek serta gelandang bertahan tangguh yang pernah berkiprah di kompetisi elite Eropa. Perjalanan karier profesionalnya dimulai bersama Newell's Old Boys pada tahun 1986 sebelum akhirnya memutuskan hijrah ke Italia untuk bergabung dengan Udinese pada 1989.
Selama berkarier di Italia, Sensini mencatatkan namanya sebagai salah satu pemain bertahan paling konsisten dan disegani. Bersama Parma, ia berhasil meraih berbagai gelar bergengsi termasuk dua trofi Piala UEFA dan dua gelar Coppa Italia, sebelum kemudian pindah ke Lazio dan turut memenangi scudetto pada musim 1999-2000.
Related Stories
Update Berita Olahraga Terkini dari Nysha Lilly
Dapatkan informasi terbaru seputar Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, dan berita sepak bola internasional langsung di inbox Anda. Gratis!
SubscribeTidak hanya sukses di level klub, Sensini juga menjadi andalan tim nasional Argentina di berbagai ajang internasional. Ia memperkuat Albiceleste dalam tiga edisi Piala Dunia yaitu tahun 1990, 1994, dan 1998, serta turut mempersembahkan medali perak pada ajang Olimpiade Atlanta 1996.
Setelah gantung sepatu dari dunia bermain profesional pada tahun 2006, Sensini melanjutkan kariernya di dunia sepak bola sebagai seorang pelatih. Ia sempat menukangi beberapa klub di Argentina seperti Estudiantes de La Plata, Newell's Old Boys, dan Colón sebelum akhirnya mendedikasikan pengalamannya untuk membina bakat-bakat muda.
Gaya Bermain dan Rekor Senior di Liga Italia
Roberto Sensini dikenal sebagai pemain yang cerdas, memiliki visi taktik yang luar biasa, serta kemampuan versatilitas yang tinggi di lini pertahanan. Sepanjang kariernya, ia sanggup mengemban berbagai peran mulai dari bek tengah, bek sayap, hingga gelandang bertahan dengan sama baiknya.
Ketangguhan fisiknya dipadu dengan teknik olah bola yang mumpuni membuat Sensini disegani oleh para penyerang lawan di Serie A. Julukan nonno atau kakek pun sempat disematkan oleh para jurnalis olahraga Italia karena usia bermainnya yang panjang dan konsistensi permainannya.
Menjelang penghujung kariernya di Udinese, Sensini bahkan menorehkan rekor sebagai pemain asing tertua yang mampu mencetak gol di divisi utama Liga Italia pada usia 39 tahun. Catatan tersebut semakin mengukuhkan statusnya sebagai salah satu legenda hidup sepak bola dunia.
Hingga kini, kontribusi besar Roberto Sensini baik bagi klub-klub Italia maupun tim nasional Argentina terus dikenang oleh para pecinta sepak bola sebagai simbol kedisiplinan dan profesionalisme tinggi di atas lapangan hijau.